Wednesday, November 21, 2012

Cerpen Husya


Husya
Oleh: Faisal Rahman


Hari itu desa terasa begitu sunyi, karena semua penduduk sedang asyik di- sawah memetik hasil keringat selama satu tahun, begitu juga dengan pak Yuri dan istri, mereka sedang memanen padi di- sawah kesayangan mereka yang terletak di baruh yang agak jauh dari pemukiman penduduk, dirumah, hanya tinggal Syuro, anak pak Yuri yang berumur 10 tahun. Syuro bermain sendirian karena di desa itu tak banyak anak-anak, dan tak ada yang berani keluar rumah jika keadaan desa sedang sunyi seperti ini, Syuro yang asyik bermain dengan mainan kesayangannya yang dibuatkan pak Yuri dari pelepah pisang tak menyadari apa yang sedang mengincar dirinya.
Pada saat pak Yuri dan istri pulang dari sawah, keadaan desa sudah mulai ramai karena penduduk desa juga sudah banyak yang kembali ke pemukiman, waktu itu sudah sore, keadaan desa pun sudah mulai sejuk karena matahari yang mungkin malu dengan kehadiran para penduduk mulai bersembunyi dibalik pepohonan rimbun yang mengitari desa Husya, sehingga para penduduk yang sudah memenuhi desa itu berusaha menikmati kesejukan desa Husya yang memang selalu terasa setiap kali hari sudah memasuki sore, pak Yuri yang baru sampai rumah tak melihat batang hidung Syuro dan berpikir mungkin ia sedang bermain di luar rumah bersama teman-teman sebayanya.
Begitu selesai membersihkan diri pak Yuri pun keluar untuk menikmati kesejukan desa yang juga menyejukkan hati seperti halnya penduduk lain, hingga sinar matahari mulai memerah pertanda hari mulai senja seluruh penduduk kembali kerumah masing-masing, pak Yuri yang tak melihat keberadaan Syuro di rumah mulai khawatir, tentu ia sangat khawatir ia tentu takut jika sampai Syuro mengalami hal yang paling ditakutkan oleh seluruh penduduk desa ini.
5 tahun terakhir di desa itu sering terjadi hal-hal aneh yang tak pernah mampu dihentikan oleh penduduk yang hanya manusia biasa. Contohnya 2 tahun yang lalu seorang anak yang bernama Kiko meninggal karena dicekik oleh sesosok aneh berambut dan perawakan serba hitam di siang hari bahkan dihadapan mata banyak penduduk, namun mereka hanya bisa memandang tanpa bisa menolong, yang mereka lakukan pada akhirnya hanya mengurusi jenazah Kiko secara layak tanpa mampu menuntut balas pada setan itu, karena mereka tak kuasa. Lalu 13 bulan setelah itu padi hasil sawah para penduduk yang merupakan satu-satunya harapan untuk bertahan hidup dirampas oleh beberapa sosok hitam bertopeng hingga tak tersisa yang mengakibatkan penduduk menderita kelaparan selama setahun, lagi-lagi penduduk tak punya kuasa.
Pak Yuri pun meminta pertolongan kepada semua penduduk desa untuk mencari Syuro, namun hingga malam semakin larut Syuro tak ditemukan, akhirnya pak Yuri dan penduduk menyerah dan pasrah bahkan penduduk berharap pak Yuri tak pernah berpikir bahwa Syuro pernah terlahir ke dunia. Pagi menjelang, pak Yuri yang selalu dibayangi keadaan anaknya Syuro mencoba untuk pasrah dan menjalani hidup seperti biasa, sebelum pergi ke sawah seperti biasa pak Yuri selalu Mandi di sungai desa yang pasang ketika pagi dan surut saat sore sehingga hanya bisa dipakai untuk mandi pada pagi hari. Di sungai pak Yuri melihat gumpalan aneh ditengah aliran sungai yang tak terlalu deras, penasaran, pak Yuri pun memeriksa gumpalan itu, namun mata pak Yuri terbelalak ketika melihat gumpalan itu, tubuh Syuro, anak pak Yuri, mengapung tak bernyawa diatas sungai dengan kaki kiri dan bahu kirinya putus bekas gigitan ikan buas, di bekas gigitan luka itu terdapat cairan hitam pekat yang membuat penduduk tau bahwa itu adalah ulah dari ikan raksasa berbadan hitam dan bergigi tajam yang sewaktu-waktu muncul di sungai desa.
            Penduduk desa, Pak Yuri serta istrinya hanya bisa termenung meratapi nasib dan ketidak berdayaan mereka. Nasib manusia biasa di dunia yang biasa.